Showing posts with label perpustakaan sekolah. Show all posts
Showing posts with label perpustakaan sekolah. Show all posts

Friday, 8 March 2013

UNDANG-UNDANG PERPUSTAKAAN


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 43 TAHUN 2007
TENTANG
PERPUSTAKAAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
     
Menimbang  :  a.   bahwa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional;
b.    bahwa sebagai salah satu upaya untuk memajukan kebudayaan nasional, perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa;
c.    bahwa dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa, perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam;
d.    bahwa ketentuan yang berkaitan dengan penyelenggaraan perpustakaan masih bersifat parsial dalam berbagai peraturan sehingga perlu diatur secara komprehensif dalam suatu undang-undang tersendiri;
e.    bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf d, perlu dibentuk Undang-Undang tentang Perpustakaan;

Mengingat    :  Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

 

Friday, 27 April 2012

PERPUSTAKAAN SEKOLAH BUKAN GUDANG BUKU PROYEK : Oleh : Itmamudin, SS[1]


 

     A.   Koleksi Perpustakan Sekolah yang ideal
“Pagi itu, sebut saja namanya Bunga, sangat senang melihat sebuah truk masuk ke sekolah. Tidak henti-hentinya mata Bunga menatap satu persatu barang yang diturunkan dari dalam truk, kemudian lewat di hadapanya sebut saja namanya Ranti seorang pustakawan yang kebetulan bertugas untuk menerima barang tersebut. Tanpa ragu bunga bertanya kepada guru tersebut, “ibu, apa to itu bu?” si guru menjawab “oh, itu buku baru nak, kiriman dari pemerintah”, spontan bunga bersorak “horee…..kita dapat buku baru…..”kemudian si Bunga mengajak teman-temanya untuk datang ke perpustakaan melihat buku-buku yang baru datang dengan sangat antusias, namun begitu membuka satu persatu buku baru tersebut, si bunga dan teman-temanya kecewa, karena buku baru tersebut sama sekali tidak menyenangkan seperti yang ada dalam pikiran si bunga dan teman-temanya. Si bunga berharap, buku baru tersebut berisi tentang cerita anak-anak, dongeng, cerita bersambung dan lain sebagainya yang bernuansa cerita. Namun kenyataanya buku baru tersebut hanya berisi buku-buku pelajaran saja yang menurut mereka tidak menarik. Dengan berat hati akhirnya si bunga dan teman-temanya beranjak pergi meninggalkan perpustakaan dengan perasaan kecewa”.

Sepenggal cerita diatas, bukan hanya isapan jempol belaka dan barangkali terjadi dibanyak sekolah. Keadaan semacam ini menggambarkan betapa perpustakaan sekolah saat ini belum dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Kebanyakan perpustakaan sekolah hanya mengkoleksi buku-buku pelajaran saja, dan sedikit buku-buku yang bernuansa rekreatif atau fiksi. Hal ini sangat kontroversial dengan pendapat Dian Sinaga[2] yang mengatakan bahwa komponen koleksi perpustakaan sekolah di bawah ini :

Thursday, 22 December 2011

MEMBANGUN PERPUSTAKAAN MADRASAH DENGAN SLIMS (SENAYAN LIBRARY INFORMASI MANAJEMEN SYSTEM)




Perpustakaan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam lembaga pendidikan, bahkan karena pentingnya keberadaan perpustakaan bagi lembaga pendidikan sebagian orang mengatakan bahwa perpustakaan merupakan jantungnya lembaga pendidikan. Ini berarti bahwa lembaga pendidikan seperti halnya sekolah atau madrasah jika tidak memiliki perpustakaan, maka ‘tidak akan hidup’ atau tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan maksimal. Ibarat manusia tidak ada jantung maka tidak akan hidup.
Perpustakaan merupakan jantung sebuah lembaga pendidikan didasarkan pada suatu teori yang menyatakan bahwa lembaga pendidikan sebenarnya hanya memfasilitasi dan mengkondisikan serta memberikan kemudahan bagi anak didik untuk belajar, bukan sepenuhnya melakukan pengajaran terhadap anak didik, karena jika melakukan pengajaran sangat terbatas pada kemampuan yang dimiliki. Hal ini berbeda ketika konsep pendidikanya adalah dengan memberikan pengajaran dikelas sekaligus memberikan fasilitas terhadap anak didik untuk belajar, maka anak didik dapat belajar sendiri dan mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Salah satu fasilitas atau media yang harus ada adalah sumber belajar diantaranya adalah perpustakaan. Idealnya perpustakaan harus dikelola dengan baik agar peserta didik menjadi betah untuk berlama-lama di perpustakaan. Namun kondisi saat ini masih jauh dari harapan, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan para pengelola perpustakaan dan juga para stakeholder yang ada di sekolah tentang perpustakaan, ditambah dengan tidak adanya tenaga pengelola yang tetap dan memiliki basic tentang ilmu perpustakaan, sehingga beberapa perpustakaan saat ini belum dikelola dengan baik dan belum layak menjadi sumber belajar bagi anak didik.
Pada tulisan ini penulis ingin memberikan solusi yang barangkali dapat menjadi alternative dalam membangun perpustakaan, yaitu dimulai dengan membangun sebuah sistem informasi perpustakaan, misalnya dengan SLIMS (senayan library information manajemen system). SLIMS merupakan salah satu software otomasi perpustakaan yang saat ini sedang ramai digunakan oleh beberapa perpustakaan sekolah dan juga perpustakaan perguruan tinggi.

Wednesday, 14 December 2011

Tenaga Perpustakaan Masih Belum Memadai

Perpustakaan merupakan jantungnya sekolah, tanpa perpustakaan sekolah tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Idealnya setiap sekolah harus memiliki perpustakaan dan juga pustakawan. Namun dari sekian banyak sekolah yang ada baik di perkotaan maupun di pedesaan saat ini masih banyak belum memiliki perpustakaan dan tenaga pustakawan, padahal satu sisi mereka dituntut untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan menghasilkan output yang baik. Namun sarana prasaran sekolah belum dipenuhi, sehingga akhirnya sekolah hanya mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan ala kadarnya saja, sehingga output yang dimiliki sebagian sekolah belum maksimal.
Hal senada disampaikan oleh Direktur Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Surya Dharma mengatakan, Kamis (28/5), ketersediaan tenaga perpustakaan masih terbatas. Baru terdapat 221 tenaga fungsional pustakawan di sekolah-sekolah yang telah memiliki perpustakaan. Saat ini, sekitar 16.000 sekolah sudah memiliki perpustakaan yang memenuhi standar.