Friday, 6 September 2013

Jasa Pengembangan Perpustakaan


Bidang Jasa 
Kami menawarkan jasa pengembangan perpustakaan Sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan Rumah Ibadah, perpustakaan pribadi, taman baca masyarakat dan semua jenis perpustakaan. bidang jasa yang kami tawarkan antara lain jasa Pembuatan RAB Pendirian perpustakaan, Pemasangan sistem informasi perpustakaan, Instalasi Jaringan, Re-desain Ruang Perpustakaan,  Pelatihan, pendampingan dan maintenance program.

SOFTWARE
sistem yang digunakan menggunakan sistem otomasi perpustakaan yang sifatnya Free Software dan tidak berbayar, dan hanya dikenakan biaya modifikasi dan juga instalasi

HADWARE
Hadware yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pengembangan sistem ini disediakan oleh pengguna, namun kami juga dapat membantu melengkapi tersebut dan kami sudah bekerjasama dengan penyedia hardware (toko komputer) untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan juga untuk memudahkan dalam SPJ


Re-desain Perpustakaan
Kami juga menerima permintaan jasa mendesain ulang perpustakaan, jika perpustakaan yang ada saat ini ingin di tata ulang sehingga lebih nyaman dan juga mengasyikkan jika berlama-lama di perpustakaan

Pelatihan
Setiap kegiatan yang diminta oleh para costumer akan dilakukan pelatihan hingga para user mampu untuk melaksanakan kegiatan sendiri

Pendampingan
Dalam perjalanan kegiatan pengembangan perpustakaan biasanya terjadi berbagai perubahan yang disebabkan oleh berbagai keinginan dari semua pihak, oleh sebab itu untuk menjamin bahwa kegiatan perpustakaan yang dilakukan oleh para pustakawan sesuai atau tidak, kami akan melakukan pendampingan sesuai dengan kontrak yang di sepakati

Maintenance Program
Untuk menjamin bahwa program yang ditawarkan akan terus dapat digunakan, maka kami memberikan jaminan dengan memberikan pemeliharaan sesuai dengan kontrak yang sepakati 

SPJ
Semua SPJ yang diperlukan akan kami bantu sesuai dengan aturan yang berlaku di negara kita
    
Konsultan
Konsultan kami berpengalaman dalam Bidang Perpustakaan (S1 Ilmu Perpustakaan, S2 Ilmu Perpustakaan, IT (Programer S1), Sertifikat Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (Lulus Sertifikasi Pengadaan Barang Jasa)

Info lebih lanjut dapat menghubungi :
HP. 085641279563/Itmamudin
Email : Itmam_wafa@yahoo.com

Sekolah yang sudah menggunakan jasa kami :Klik disini


LASA HS



fotolasa_lhs 
Pustakawan yang cukup dikenal luas adalah Lasa HS, beliau lahir di Boyolali, 1 Januari 1948dan sekarang tinggal di Nologaten RT I RW 04 No. 33 Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. namun beliau saat ini sudah pensiun. meskipun begitu saat ini masih aktif sebagai tutor dan juga dosen di UGM dan juga UIN suka sebagai pengajar mata kuliah ilmu perpustakaan. semasa tugasnya beliau mendapatkan tugas sebagai  Kepala Bidang Pelayanandi Perpustakaan UGM Yogjakarta. beliau menimba ilmu Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM dan juga Pascasarjana UGM - Magister Manajemen Perpustakaan.
Pengalaman Kerja Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (September 1972 - 2012)


PENGGUNA SLIMS SALATIGA

Dibawah ini saya tuliskan beberapa perpustakaan sekolah yang sudah menggunakan program slims, sebagai sistem yang digunakan untuk mengelola perpustakaan mereka.

Sulistyo Basuki


  
L. Sulistyo-Basuki adalah Guru besar Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya dan Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Depok. Sulistyo-Basuki, atau akrab dipanggil Pak Sulis (lahir di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, 11 September 1941; umur 71 tahun) merupakan putra pertama almarhum Bapak Hardjito dan Ibu Moeridjah Hardjito, yang kedua-duanya merupakan pensiunan guru Sekolah Rakjat di Blitar. Ibunda Moeridjah sempat merangkap pustakawan ketika menjadi guru bantu di Meisjes Vervolgschool Wlingi.
Ia menjadi putra Indonesia pertama yang meraih gelar doktor dalam bidang Information and Library Science dan juga gelar profesor bidang Ilmu Perpustakaan (sejak tahun 1995). Gelar doktor diraihnya akhir Juni 1984 di Case Western Reserve University Cleveland, Ohio, Amerika Serikat. Ia mempertahankan disertasi yang berjudul: A Citation Analysis of Agricultural and Medical Journal Published in Less Developed Countries, With Special Reference to the Regions of Africa Sub-Sahara, Latin America, and Southeast Asia.

Friday, 31 May 2013

Pustakawan dalam lingkaran sekte setan benarkah?


Para pustakawan dan pemerhati perpustakaan di seluruh Indonesia barangkali terkejut dengan berita  beredarnya surat perintah ritual seks bebas dengan kop resmi Pemkot Bandung dan Kantor Perpustakaan & Arsip Daerah (Pusarda).

Baranghkali mereka tidak akan terlalu kaget jika aliran tersebut tidak ada kaitanya dengan perpustakaan. karena saat ini banyak sekali sekte-sekte sesat yang berkembang didunia. Dalam Surat perintah bernomor No: 41/019-C-K tersebut, Kapuserda Kota Bandung itu memerintahkan sejumlah nama pegawai perpustakaan dan arsip daerah untuk melakukan ritual seks bebas secara bersama-sama di tempat yang telah ditentukan.

Surat tersebut disertai dengan logo Pemkot Bandung itu ditandatangani Kepala Kantor Pusarda, Muhammad Anwar, di atas meterai Rp6.000 dan distempel. Surat itu tertanggal 31 Januari 2013. Sesuai dengan asal surat --- kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah -- tercantum alamat Jalan Caringin, N.103 Bandung, Jawa Barat, persis seperti alamat instansi tersebut.

Ada tiga poin penting yang ditegaskan dalam surat perintah tersebut. Pertama, ritual ini atas ijin gembala sidang sebuah gereja dalam misa hitam yang diadakan pada saat-saat tertentu.
Kedua, dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) Kantor Pusarda Kota Bandung No DPA 1.24.01.0108.52 tanggal 1 Januari 2013. Ketiga, untuk kepentingan pribadi dan sangat rahasia pada akhir surat terdapat penegasan bahwa perintah itu harus dilaksanakan dan dilaporkan kepada Kepala Pusarda dan gembala gereja.

Dalam lampiran surat, ada 10 nama yang disebutkan agar melaksanakan perintah dalam surat itu. Bahkan disertai nomor induk pegawai (NIP), Jabatan, dan pasangan seks bebasnya.

Polrestabes Bandung langsung membentuk tim khusus untuk membongkar kebenaran surat perintah itu. Tugas penting tim mencari pelaku penyebaran surat perintah yang diduga palsu itu.

Kepala Polrestabes Bandung, Komisaris Besar Polisi Abdul Rahman Baso mengatakan, pihaknya harus hati-hati dalam menangani kasus ini. Agar suasana di Bandung tetap kondusif.

"Dari bukti yang ada, sudah pasti surat itu dipalsukan karena kop surat dan logonya berbeda dengan kop surat asli yang dikeluarkan resmi oleh instansi di lingkungan Pemerintah Kota Bandung," kata Kepala Polrestabes Bandung, Komisaris Besar Polisi Abdul Rahman Baso.

Sambil berharap-harap cemas (H2C) Kita menunggu kebenaran dan keabsahan surat tersebut. mudah-mudahan isu tersebut tidak benar, karena jika surat tersebut benar, maka satu lagi tamparan keras bagi dunia perpustakaan Indonesia.

padahal kita semua tahu, betapa sulitnya untuk meningkatkan dan mensosialisasikan perpustakaan kepada masyarakat kita. stigma yang menghinggapi masyarakat kita sudah terlanjur mengakar dalam benak mereka.sambil berharap mudah-mudahan kasus dibandung tidak memperburuk citra perpustakaan dan pustakawan dalam masyarakat kita....semoga

Sumber : http://fokus.news.viva.co.id/news/read/417426-heboh-sekte-seks-bebas-di-bandung

Tuesday, 19 March 2013

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PROSES ORGANISASI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN

Oleh : Itmamudin, SS

A.   Pendahuluan
Dalam dua dasa warsa terakhir, teknologi berkembang begitu cepat. Banyak aspek kehidupan akhirnya berubah, termasuk perubahan perilaku masyarakat karena adanya teknologi informasi, dimulai dengan penemuan komputer pribadi di era tahun 1980an dan mulai banyak digunakan pada dasa warsa terakhir abad 20 benar-benar telah menjadi pola kerja, pola kehidupan dan berbagai aspek lain seperti penyimpanan data, penyediaan data serta penyajian data. Hal ini harus disadari oleh pustakawan untuk mengadaptasi perubahan ini.
     Dalam prakteknya teknologi informasi sangat membantu semua aspek pekerjaan pustakawan di   
      perpustakaan. Dari mulai kegiatan pengadaan bahan pustaka, pengolahan, sirkulasi, sistem temu balik
      informasi dan lain sebagainya. Kegiatan ini dikenal dalam perpustakaan sebagai kegiatan organisasi
      informasi.
Menurut Yuyu Yulia (2008:1.2) Organisasi informasi merupakan pelbagai kegiatan yang bertujuan supaya setiap bahan pustaka dalam koleksi perpustakaan dapat :
1.   Diketahui tempat fisiknya melalui nomor panggil
Disini peran katalog sebagai wakil dokumen dibutuhkan oleh pengunjung perpustakaan untuk mengetahui keberadaan sebuah koleksi dan juga temu kembali informasi.
2.   Dikenali melalui sajian ringkas dari bahan pustaka yang disebut dengan cantuman bibliografis.
Disini peran cantuman yang ditempelkan pada dokumen fisik buku yang berada dijajaran rak atau disajikan di rak berperan sekali dalam menemukan kembali informasi yang diinginkan
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa teknologi informasi sangat diperlukan untuk mempercepat proses pengolahan informasi dan juga temu kembali informasi untuk memudahkan petugas dan pengunjung perpustakaan, baik ketika menjajarkan koleksi di rak maupun pada saat temu kembali informasi.     


B.   Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sejauhmana peranan teknologi informasi dalam kegiatan organisasi informasi di perpustakaan.
Hal ini sangat berguna dalam pengembangan kegiatan organisasi informasi, karena hasil dari kegiatan ini sangat diperlukan oleh pengunjung perpustakaan dan juga petugas perpustakaan dalam temu kembali informasi.
Informasi Lengkap Klik Disini

PERAN PUSTAKAWAN SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL DI PERPUSTAKAAN


Oleh :
Itmamudin, SS

Dalam makalah ini penulis menyampaikan beberapa hal terkait dengan peran pustakawan sebagai makhluk sosial di perpustakaan. Untuk memudahkan penulis dalam menyampaikan makalah ini, penulis sampaikan dalam sistematika penulisan sebagai berikut, pendahuluan, tugas utama pustakawan di perpustakaan, peran pustakawan sebagai tenaga fungsional di perpustakaan, dan peran pustakawan sebagai makhluk sosial di perpustakaan, penutup

A.   Pendahuluan
Pustakawan dan perpustakaan merupakan sesuatu yang tak terpisahkan, seperti dua sisi mata uang, dimana ada perpustakaan, maka idealnya disitu juga harus ada pustakawan. Namun pada kenyataanya, banyak sekali perpustakaan yang di dalamnya tidak ada pustakawan. Sehingga perpustakaan tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Bagi kebanyakan orang, profesi pustakawan merupakan profesi yang belum terlalu diperhitungkan, karena kebanyakan mereka menilai sebuah profesi diukur dengan penilaian terhadap materi. Sementara perhatian pemerintah sendiri untuk pustakawan saat ini juga belum seperti perhatiannya kepada profesi yang lain misalnya profesi dokter, hakim, jaksa dan profesi lainya. Hal ini terjadi karena kebutuhan masyarakat akan perpustakaan belum seperti kebutuhan mereka akan profesi yang lain.

LAYANAN DIGITAL LOCAL CONTENTS UPT PERPUSTAKAAN STAIN SALATIGA

Oleh : Itmamudin, SS


A.     PENDAHULUAN
Ada ungkapan “Library is  the heart of Institution and the heart of everyone’’ makna dari ungkapan tersebut perpustakaan diartikan sebagai bagian yang sangat vital atau sangat penting dalam sebuah institusi pendidikan. Begitu pentingnya peran perpustakaan dianalogikan seperti jantung yang menjadi pusat peredaran darah bagi manusia. Tak terkecuali perguruan tinggi, yang menjadikan perpustakaan sebagai jantungnya perguruan tinggi.  
Tulisan lengkap Klik disini

ANALISIS TERHADAP PENGEMBANGAN SISTEM


Oleh : Itmamudin 
A.   Pendahuluan
UPT Perpustakaan STAIN Salatiga merupakan salah satu perpustakaan perguruan tinggi agama yang berada pada naungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Sejak berdiri hingga sekarang terus melakukan pengembangan diberbagai bidang. Dari mulai pengembangan sarana prasarana, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan koleksi hingga pengembangan sistem informasi dan pelayanan perpustakaan
Tulisan lengkap Klik disini

Monday, 18 March 2013

USER EDUCATON (PENDIDIKAN PEMUSTAKA) : Upaya Mendekatkan Perpustakaan dengan Mahasiswa

Oleh :
Itmamudin, SS 

Keberadaan perpustakaan pada suatu lembaga pendidikan terutama pendidikan tinggi mutlak ada dan sangat diperlukan. Begitu pentingnya peranan perpustakaan ini, sehingga dapat dikatakan bahwa eksistensi perpustakaan berperan sebagai jantungnya perguruan tinggi (Lasa, 86 : 74).
Hal tersebut dilandasi dengan fungsi perpustakaan yang berupaya memberikan dan melengkapi fasilitas membaca untuk kepentingan pendidikan, rekreatif dan penelitian. Melalui kegiatan perpustakaan yang meliputi kegiatan mengadakan dan mengumpulkan, mengolah, dan melestarikan, dan menyebarluaskan informasi sesuai dengan kurikulum, hal ini diharapkan dapat memperkaya khasanah keilmuan dan wawasan pemahaman bagi seluruh civitas akademika STAIN Salatiga.

PUSTAKAWAN HARUS PROFESIONAL : Menuju Sertifikasi Pustakawan



Itmamudin, SS
Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Salatiga


A.      Realita Eksistensi Pustakawan
Pustakawan dan perpustakaan merupakan sesuatu yang tak terpisahkan, seperti dua sisi mata uang, dimana ada perpustakaan, maka idealnya disitu juga harus ada pustakawan. Namun pada kenyataanya, banyak sekali perpustakaan yang di dalamnya tidak ada pustakawan. Sehingga perpustakaan tidak dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Bagi kebanyakan orang, profesi pustakawan merupakan profesi yang belum terlalu diperhitungkan, karena kebanyakan mereka menilai sebuah profesi diukur dengan besar kecilnya materi yang diperoleh. Sementara perhatian pemerintah sendiri untuk pustakawan saat ini juga belum seperti perhatiannya kepada profesi yang lain misalnya profesi dokter, hakim, jaksa dan profesi lainya.
Hal ini terjadi karena kebutuhan masyarakat akan perpustakaan belum seperti kebutuhan mereka akan profesi yang lain. Mereka lebih cenderung untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi terlebih dahulu sebelum menjadikan perpustakaan sebagai prioritas utama mereka.  wiji suwarno (2010 : 46) mengatakan bahwa perpustakaan masih merupakan keinginan (wants) dari pada kebutuhan (needs) bagi sementara orang. Ini artinya bahwa kesadaran dan kepentingan mereka terhadap perpustakaan sebagai sumber informasi mulai ada, mulai menggejala dan berkembang tetapi belum menjadi prioritas yang utama. Satu contoh dalam dunia kampus, sebenarnya banyak mahasiswa yang ingin berkunjung ke perpustakaan, ingin membaca buku, ingin meminjam buku, dan seterusnya, namun itu baru sebatas keinginan saja, belum diwujudkan dalam tindakan nyata dengan datang ke perpustakaan, kemudian di sana membaca buku, meminjam buku dan seterusnya.

Friday, 8 March 2013

UNDANG-UNDANG PERPUSTAKAAN


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 43 TAHUN 2007
TENTANG
PERPUSTAKAAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
     
Menimbang  :  a.   bahwa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional;
b.    bahwa sebagai salah satu upaya untuk memajukan kebudayaan nasional, perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa;
c.    bahwa dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa, perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam;
d.    bahwa ketentuan yang berkaitan dengan penyelenggaraan perpustakaan masih bersifat parsial dalam berbagai peraturan sehingga perlu diatur secara komprehensif dalam suatu undang-undang tersendiri;
e.    bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf d, perlu dibentuk Undang-Undang tentang Perpustakaan;

Mengingat    :  Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

 

Kode Etik Pustakawan

KODE ETIK PUSTAKAWAN INDONESIA
Pustakawan adalah seorang yang berkarya secara profesional dibidang perpustakaan dan dokumentasi, yang sadar pentingnya sosialisasi profesi Pustakawan kepada masyarakat luas, dan perlu menyusun etika sebagai pedoman kerja.
Di alam keterbukaan informasi, perlu ada kebebasan intelektual dan memperluas akses informasi bagi kepentingan masyarakat luas. Pustakawan ikut melaksanakan kelancaran arus informasi dan pemikiran yang bertanggung jawab bagi keperluan generasi sekarang dan yang akan datang. Pustakawan berperan aktif melakukan tugas sebagai pembawa perubahan dan meningkatkan kecerdasan masyarakat untuk mengantisipasi perkembangan dan perubahan di masa depan.
Prinsip yang tertuang dalam Kode Etik ini merupakan kaidah umum Pustakawan Indonesia.

Monday, 21 May 2012

PENTINGNYA PENGELOLAAN ARSIP MENGGUNAKAN SISTEM OTOMASI


A.     PENDAHULUAN
Secara etimologi arsip berasal dari bahasa yunani kuno archeion yang merupakan perkembangan dari kata arche yang memiliki arti bervariasi, misalnya permulaan, asal, tempat utama, kekuasaan, kedaulatan, kehakiman, dan kantor. Dari kata tersebut terbentuklah kata jadian archaios yang berarti kuno, archeion yang berarti gedung pemerintah yang selanjutnya melahirkan kata archivum (Latin), archive (Inggris), archief (Belanda) dan dalam bahasa Indonesia menjadi kata arsip[1]

Saturday, 28 April 2012

KRITIK TEMU BALIK INFORMASI MULTI MEDIA



Sistem temu balik multimedia memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka penyatuan penyimpanan dan temu balik informasi di dalam sejumlah formulir-formulir, teks , gambar, audio dan video. Informasi yang ada di dalam multi media  memiliki beberapa karakter khusus yang hal tersebut menimbulkan perbedaan dari informasi yang tersaji secara tekstual, dan selanjutnya temu balik informasi multimedia juga berbeda dari sistem temu balik teks secara konvensional.

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PROSES ORGANISASI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN



A.   Pendahuluan
Dalam dua dasa warsa terakhir, teknologi berkembang begitu cepat. Banyak aspek kehidupan akhirnya berubah, termasuk perubahan perilaku masyarakat karena adanya teknologi informasi, dimulai dengan penemuan komputer pribadi di era tahun 1980an dan mulai banyak digunakan pada dasa warsa terakhir abad 20 benar-benar telah menjadi pola kerja, pola kehidupan dan berbagai aspek lain seperti penyimpanan data, penyediaan data serta penyajian data. Hal ini harus disadari oleh pustakawan untuk mengadaptasi perubahan ini.

Friday, 27 April 2012

PERPUSTAKAAN SEKOLAH BUKAN GUDANG BUKU PROYEK : Oleh : Itmamudin, SS[1]


 

     A.   Koleksi Perpustakan Sekolah yang ideal
“Pagi itu, sebut saja namanya Bunga, sangat senang melihat sebuah truk masuk ke sekolah. Tidak henti-hentinya mata Bunga menatap satu persatu barang yang diturunkan dari dalam truk, kemudian lewat di hadapanya sebut saja namanya Ranti seorang pustakawan yang kebetulan bertugas untuk menerima barang tersebut. Tanpa ragu bunga bertanya kepada guru tersebut, “ibu, apa to itu bu?” si guru menjawab “oh, itu buku baru nak, kiriman dari pemerintah”, spontan bunga bersorak “horee…..kita dapat buku baru…..”kemudian si Bunga mengajak teman-temanya untuk datang ke perpustakaan melihat buku-buku yang baru datang dengan sangat antusias, namun begitu membuka satu persatu buku baru tersebut, si bunga dan teman-temanya kecewa, karena buku baru tersebut sama sekali tidak menyenangkan seperti yang ada dalam pikiran si bunga dan teman-temanya. Si bunga berharap, buku baru tersebut berisi tentang cerita anak-anak, dongeng, cerita bersambung dan lain sebagainya yang bernuansa cerita. Namun kenyataanya buku baru tersebut hanya berisi buku-buku pelajaran saja yang menurut mereka tidak menarik. Dengan berat hati akhirnya si bunga dan teman-temanya beranjak pergi meninggalkan perpustakaan dengan perasaan kecewa”.

Sepenggal cerita diatas, bukan hanya isapan jempol belaka dan barangkali terjadi dibanyak sekolah. Keadaan semacam ini menggambarkan betapa perpustakaan sekolah saat ini belum dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Kebanyakan perpustakaan sekolah hanya mengkoleksi buku-buku pelajaran saja, dan sedikit buku-buku yang bernuansa rekreatif atau fiksi. Hal ini sangat kontroversial dengan pendapat Dian Sinaga[2] yang mengatakan bahwa komponen koleksi perpustakaan sekolah di bawah ini :